Digitalisasi Menjamur, Pengunjung Pasar Buku Wilis Menurun

Bagi Anda yang suka membaca atau mengoleksi buku-buku jadul, bekas, maupun baru, Pasar Buku Wilis patut Anda masukkan ke daftar kunjungan Anda.

Kesuksesan yang Berasal dari Tongkrongan

Apakah Anda pernah mendengar jika ada sebuah kebiasaan yang buruk dapat mengubah hidup seseorang? Ya, terkadang kita jarang percaya akan hal itu atau bahkan sampai dipandang sebelah mata orang lain. Tetapi apakah anda percaya jika orang tersebut sekarang memiliki usaha bisnis yang sudah berkembang hingga menjadi CV? Ini adalah kisah dari Rigel Dwi Setiawan, pemuda berusia 27 tahun.

Nyampah di Buangdisini.id Aja, Sampah Jadi Uang

Masalah sampah memang tak kunjung usai hingga saat ini, apalagi sampah plastik. Hampir dari setiap aktifitas kita mengunakan plastik. Namun, bukan berarti tak bisa dikendalikan. Perusahaan rintisan tiga anak muda mahasiswa Universitas Brawijaya, Buangdisini, mencoba mengatasi masalah dengan melalui aplikasi.

Retinol dan Cara Penggunaan yang Tepat

Retinol adalah bahan kandungan senyawa aktif dari vitamin A. Bahan ini biasanya digunakan untuk mengobati masalah kulit, seperti jerawat, memperbaiki tekstur kulit, hingga dapat mencegah penuaan dini.Namun, penggunaan bahan aktif seperti retinol ini harus digunakan sesuai aturan lho! Agar kulit terhindar dari iritasi dan bisa mendapatkan hasil yang maksimal.

Pelajar Ingin Dishub Malang Jadikan Bus Macito Sebagai ‘Bus Halokes’

Kehadiran bus wisata Malang City Tour atau yang biasa disebut Macito ini menjadi perhatian masyarakat atau wisatawan dari luar daerah yang datang ke Malang. Pasalnya, penumpang bisa menikmati keindahan di sejumlah ruas jalan kota Malang yang mempunyai nilai sejarah selama 40 menit secara gratis.

Tampilkan postingan dengan label Malang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2022

Kondisi Kesehatan Terkini Korban Tragedi Kanjuruhan yang Selamat


 

Polisi menembakkan gas air mata. (Foto: Twitter @idextratime)

Malang | Sudah lebih dari dua pekan berlalu, namun tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 132 orang ini masih menjadi luka yang dalam terutama bagi masyarakat Malang. Tragedi dimana saling injak antar suporter Aremania ini terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang pada 1 Oktober 2022. Tragedi ini menjadi perhatian seluruh dunia karena merupakan kerusuhan sepak bola yang paling parah dan menelan korban jiwa terbesar kedua dalam sejarah sepak bola.

Sejumlah Aremania telah berkenan untuk membagikan cerita dan pengalaman pilu terkait tragedi yang menelan ratusan korban jiwa itu. Salah satu Aremania, Ikram Assidiq (20), tampak sedih jika teringat akan kejadian pada malam itu.

“Kalau diinget-inget malam itu benar-benar mengerikan, gak pernah kebayang kalau aku ngalamin hal kaya gitu di depan mata kepalaku sendiri” ucapnya.

Pemuda tersebut melihat banyak orang yang berusaha menyelamatkan diri setelah para aparat menembakkan gas air mata kearah tribun penonton. “Sebenarnya kalau masalah kesehatan fisik sudah membaik, yang masih lumayan terganggu itu mental, soalnya masih teringat jelas teriakan orang-orang yang minta tolong, teman-teman saya terinjak-injak di sebelah saya persis. Itu yang bikin kaya tersiksa gitu.” jawabnya ketika ditanya mengenai kondisi kesehatannya saat ini. 


Keadaan panik suporter di atas gate 14. (Foto: Ikram Assidiq)

Ikram menceritakan ketika salah satu temannya yang berusaha menyelamatkan seorang anak kecil yang terjepit dan menangis karena kesulitan bernapas. Ia mengatakan bahwa dirinya dan empat temannya berada di gate 14 sedangkan gate yang paling parah berada di gate 13.

“Waktu tiba-tiba ditembak gas itu rasanya mata perih terus langsung gak bisa napas. Dan mata perih itu masih terasa sampai seminggu setelah kejadian.” katanya.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya sempat ikut panik dan ingin segera keluar menyelamatkan diri dari stadion. Namun, jika ia ikut panik nantinya akan semakin menambah jumlah orang yang menumpuk di pintu keluar.

Terkait dengan penggunaan gas air mata sendiri, pihak FIFA melarang penggunaan gas air mata di dalam stadion yang tertulis di dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations Pasal 19. Pihak Polri juga mengakui jika anggotanya menggunakan gas air mata yang sudah kedaluwarsa dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan. Hingga saat ini Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) masih terus mencari dan mendalami tragedi ini.


Reporter: Salsabiela Rizky Putri

Editor: Laurensia Sekar Ayu Kinanthi


Selasa, 11 Oktober 2022

Penjual Aksesori Unik Bernuansa Nusantara di Malang Night Market Klojen

Stand Maargaleri yang terletak di Malang Night Market di Jalan Kyai Tamin, Klojen, Kota Malang. (Foto: Aurellia Marsya)


Malang | Malam minggu kurang afdol rasanya jika hanya berdiam di rumah saja, apalagi bagi remaja malam minggu merupakan malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh mereka. Pada malam minggu alangkah baiknya jika mengunjungi tempat-tempat yang ramai dan unik.


Sudah banyak tempat-tempat makanan seperti angkringan atau kafe yang bisa didatangi oleh remaja. Tetapi bagaimana jika hanya tempat-tempat seperti kafe atau angkringan yang mereka kunjungi? Tenang saja Kota Malang menyediakan tempat yang unik dengan suasana yang berbeda dan bisa menjadi pengalaman yang seru nantinya.


Beberapa turis dan pelanggan lokal yang membeli gelang dan cincin di stand Maargaleri. (Foto: Dokumentasi Maargaleri).


Stand Maargaleri merupakan stand aksesori yang menjual gelang, kalung, cincin, dan kain songket dengan nuansa otentik nusantara. Hal ini dapat dilihat dari penataan produk-produk menggunakan kain songket dan ornamen kayu khas Indonesia.


Stand Maargaleri sendiri terletak di Malang Night Market di Jalan Kyai Tamin, Klojen, Kota Malang dan dibuka pukul 18.00 WIB sampai 22.00 WIB. 


Hal yang membuat Maargaleri menarik yaitu para pelanggan dapat memesan khusus setiap produk yang akan dibeli. Tengok saja Nadya Tasya Kamila, 20, memilih tali warna biru muda dengan pernak pernik inisial nama berwarna putih. Setelah Nadya menentukan warna kemudian Septyan, penjual aksesori, mulai berkarya dengan membuat simpul di bagian kedua ujung tali. Lalu meronce monte dari huruf N. Pembuatannya pun hanya membutuhkan waktu 10 menit sampai 15 menit saja.


Harga yang ditawarkan pun berbeda-beda tergantung tingkat kesulitan pengerjaan dan bahan yang digunakan. Mulai dari delapan ribu hingga 75 ribu rupiah. Tak hanya remaja, orang dewasa hingga orang tua pun tertarik untuk mengunjungi stand Maargaleri. Bahkan banyak turis yang tertarik dengan stand Maargaleri karena memberikan kesan yang berbeda dengan nuansa otentik nusantara, berbeda dari stand-stand lainnya yang hanya menjual makanan atau minuman.


Stand Maargaleri hampir tidak pernah sepi karena keunikannya yang membuat pengunjung terus mengunjungi stand Maargaleri. Nadya, salah seorang pembeli gelang dari Maargaleri mengaku tertarik dan merasa puas dengan gelang hasil buatan Maargaleri.


“Pertama kali liat gelang-gelangnya lucu dan juga ternyata bisa custom jadi tertarik buat beli. Harganya pun menurut saya murah untuk gelang custom seperti ini,” ungkapnya.



Reporter: Aurellia Marsya

Editor: Rizky Agung Bintara

 








Pelajar Ingin Dishub Malang Jadikan Bus Macito Sebagai ‘Bus Halokes’


Bus Macito yang menunggu penumpang datang.(Foto: Rafaeyz Adventures).



Malang | Kehadiran bus wisata Malang City Tour  atau yang biasa disebut Macito ini menjadi perhatian masyarakat atau wisatawan dari luar daerah yang datang ke Malang. Pasalnya, penumpang bisa menikmati keindahan di sejumlah ruas jalan kota Malang yang mempunyai nilai sejarah selama 40 menit secara gratis. 


Pada hari Sabtu dan Minggu bus Macito ini beroperasi mulai pukul 13.00 sampai dengan 20.00 WIB. Bagi warga yang berminat untuk naik bus ini dapat menuggu di Jalan Majapahit Kecamatan Klojen, Kota Malang di depan eks kantor Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang.


Namun, hal ini perlu perhatian lebih dari Dinas Perhubungan Kota Malang, karena Malang yang dikenal sebagai kota pendidikan yang banyak sekali para pelajar dari luar daerah. Sehingga menyebabkan kemacetan, apalagi setiap pagi pada hari biasa sering terjadi kemacetan di beberapa jalan di kota malang yang disebabkan oleh banyaknya pengendara sepeda motor yang hendak berangkat pergi kerja atau sekolah yang melewati jalan tersebut. 

Dua unit bus sekolah yang sepi penumpang di Jalan Gajahmada Kec. Klojen, Kota Malang. (Foto: Diyah Ayu Setyowati).


Salah satu mahasiswa Universitas di Malang menginginkan bus Macito digunakan juga sebagai bus sekolah. Selain bertujuan untuk mengurangi kemacetan juga bisa untuk mengurangi polusi udara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor atau lainya. 


“Sebenarnya, saya ingin menyampaikan kepada Kepala Bidang Angkutan, Dinas Perhubungan Kota Malang untuk menjadikan bus Macito sebagai bus sekolah yang beroperasi setiap hari untuk menjemput pelajar khususnya mahasiswa dan mengantarkan ke kampus masing-masing. Dengan kapasitas 23 orang setiap Bus mungkin ini akan mengurangi adanya kemacetan dan polusi udara,” ujar Anis, mahasiswa, Sabtu (1/10/22).


Penggunaan bus Macito yang hanya dioperasikan pada weekend sudah banyak peminatnya. Tapi mungkinkah peminat bus Macito yang dijadikan sebagai bus sekolah akan lebih banyak peminatnya? Mungkin saja iya, karena banyak sekali para pelajar atau mahasiswa yang sadar akan banyaknya polusi udara di kota Malang dan kemacetan yang terjadi sepanjang jalan. Sehingga mereka lebih memilih menggunakan angkutan umum dari pada kendaraan pribadi mereka.



Reporter: Diah Ayu Setyowati

Editor: Muhammad Faris Taufiqul Hakim


Digitalisasi Menjamur, Pengunjung Pasar Buku Wilis Menurun



Kondisi Pasar Buku Wilis yang tengah sepi pengunjung. (Foto: Alda Imroatul Istifaiyah).


Malang| Bagi Anda yang suka membaca atau mengoleksi buku-buku jadul, bekas, maupun baru, Pasar Buku Wilis patut Anda masukkan ke daftar kunjungan Anda. 

Pasar Buku Wilis adalah pasar yang khusus menjual berbagai jenis buku. Pasar ini terletak di Jalan Simpang Wilis Indah, Malang, Jawa Timur. Tempat ini menyediakan buku, mulai dari buku-buku jadul, bekas, hingga baru hampir semuanya ada. Pasar Buku Wilis sendiri mempunyai beberapa kios pedagang buku yang bisa dijumpai. Kebanyakan para pedagang menjual buku-buku pengetahuan umum, sains, terjemahan, buku sekolah, perguruan tinggi, hingga novel dan komik. 

Bukan hanya variasi buku yang menjadi keunggulan di sini. Namun, pelanggan juga dapat menawar buku dengan harga terjangkau. Hal yang susah dilakukan saat berbelanja lewat aplikasi e-commerce.

Pengunjung bukan hanya bertujuan untuk membeli buku di sini. Namun, ada juga yang berkunjung untuk menjual koleksi buku pribadi mereka kepada pedagang di Pasar Buku Wilis. 

Keunikan lain juga terdapat pada kios-kios yang jika tidak memiliki buku yang sedang dicari oleh pelanggan, maka kios tersebut akan bekerja sama dengan kios lainnya. Buku yang dijual di sini juga terjangkau. Pelanggan dapat membeli buku mulai dari lima ribu rupiah hingga 250 ribu rupiah.

Terlepas dari segala keunikan Pasar Buku Wilis, akhir-akhir ini para pedagang di Pasar Buku Wilis merasakan keresahan akibat era digitalisasi. Digitalisasi sendiri merupakan penggunaan teknologi digital guna mengubah model bisnis. Di era semua yang serba digital ini, ada beberapa pedagang buku yang terdampak akibat dari digitalisasi tersebut. 

"Karena era digitalisasi, pengunjung di sini jadi menurun," kata Arif Wahyudi yang merupakan salah satu pedagang buku di sana pada kami, Minggu (2/10).

Pengunjung yang rata-rata berasal dari mahasiswa menjadi turun akibat dari pandemi COVID-19. Walaupun PPKM sudah tidak diberlakukan, namun dengan adanya teknologi yang membuat buku bisa dibaca kapanpun dan dimanapun (e-book) membuat para pedagang agak susah mendapatkan pelanggan.

Arif berkata bahwa kebanyakan dari pelanggan hanya mencari buku-buku yang sulit dicari di tempat lain dan mereka juga mencari buku dengan harga murah. "Dari kalangan akademisi memang cepat menyesuaikan era digital, jadi pelanggan dari kalangan mereka menurun." Ia juga menyampaikan bahwa dari kalangan akademisi lebih memilih untuk berbelanja buku melalui aplikasi e-commerce daripada berbelanja langsung di tempat.

"Pengunjung masih, tapi memang sedikit. Penjualan juga ada, tapi menurun dari sebelum-sebelumnya," jelas Arif.

Keresahan lain juga kami temukan pada Suwardi, salah satu pedagang di sana, ia mengatakan, "Penjualan tetap ada, tapi mengalami penurunan." Kami lantas bertanya mengapa ia tidak menjual lewat aplikasi e-commerce saja, kemudian ia menjawab bahwa toko yang dimilikinya tidak mempunyai buku yang lengkap. 


Suwardi yang tengah menunggu pelanggan berkunjung ke kiosnya. (Foto: Alda Imroatul Istifaiyah).


Ia juga menyampaikan bahwa ada beberapa kios yang tutup lebih awal akibat dari menurunnya pengunjung. "Kadang kiosnya tutup lebih awal sebelum waktunya pasar tutup." Ia juga menambahkan bahwa selama pandemi, ada beberapa kios yang tetap buka walaupun tidak ada pengunjung.

Dinda Rizky, seorang mahasiswi yang kebetulan sedang mencari sebuah buku Pengantar Ekonomi Makro berkata, "Saya mencari buku di sini karena terkadang di sini lebih murah dari pada e-commerce dan di sini juga bisa ditawar."

Para pedagang juga ingin menyampaikan hal ini kepada Pemerintah Kota Malang yang diharapkan dapat memberikan solusi atas keresahan para pedagang di sini.


Reporter: Alda Imroatul Istifaiyah

Editor: Muhammad Faris Taufiqul Hakim


Pengaruh Pandemi dan Krisis Global Terhadap Penjualan Mebel


Hamdan, salah seorang pemilik Toko Mebel di Kota Malang. (Foto: Boby Zidane).


Malang | Krisis global yang tak menentu membuat pengusaha Mebel hampir di ujung tanduk. Belum juga pulih dari pandemi Covid-19, pedagang mebel juga sudah dihadapkan situasi global imbas dari perang Rusia-Ukraina. 


Perang Rusia-Ukraina telah membuat penjualan mebel mengalami penurunan yang sangat drastis. Kondisi ini masih bisa berlanjut dalam rentang waktu yang cukup lama, dikarenakan belum adanya tanda-tanda konflik berakhir yang berujung pada jual beli mebel di Eropa.

Toko Mebel Seng Ken Ken, Malang (Foto: Boby Zidane).


Mebel juga kadang membutuhkan bahan-bahan yang hanya bisa didapat melalui impor. Tetapi, dikarenakan krisis tersebut harga bahan-bahan yang dibutuhkan melonjak.

Bukan hanya itu, adanya kebijkan kenaikan harga BBM membuat ongkos pengiriman barang susah untuk ditentukan tarif nya. Para pekerja juga menuntut untuk diberi upah mingguan dikarenakan gaji harian saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. “Jika kita menaikan harga penjualan maka semakin hilang minat masyarakat kepada bisnis mebel,’’ ujar Hamdan.


“Bisa disimpulkan bahwa perang memberi dampak yang signifikan dalam perdagangan. Masyarakat lebih banyak menghabiskan uang untuk kebutuhan pokok, bukan untuk kebutuhan yang lain,” pungkas Hamdan. Dikarenakan pengeluaran untuk membeli gas dan listrik membengkak. Ia berharap perang lekas selesai, sehingga kondisi perdagangan global bisa lekas pulih.




Reporter: Boby Zidane

Editor: Ahmad Farrel Wahyu Firdaus



Retinol dan Cara Penggunaan yang Tepat


Salah satu produk skincare yang mengandung retinol. (Foto: Shopee eiem.beauty).

Malang | Pasti kalian sudah tidak asing terhadap retinol yang biasanya terdapat di dalam kandungan skincaremu bukan? Retinol adalah bahan kandungan senyawa aktif dari vitamin A. Bahan ini biasanya digunakan untuk mengobati masalah kulit, seperti jerawat, memperbaiki tekstur kulit, hingga dapat mencegah penuaan dini. 

Namun, penggunaan bahan aktif seperti retinol ini harus digunakan sesuai aturan lho! Agar kulit terhindar dari iritasi dan bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Apa saja yang harus diperhatikan ketika mulai menggunakan retinol? Dan kira-kira apa saja sih manfaat dari penggunaan retinol secara rutin?


Dr. Herdina Permatasari (Dr. Devi) menjelaskan ke salah satu customer mengenai kondisi kesehatan kulit. (Foto: Salsabiela Rizky Putri).

“Untuk penggunaan awal, gunakanlah produk yang mengandung retinol dengan presentasi paling rendah yaitu sekitar 0,25% dan jumlah pemakaian yang sedikit. Kemudian, tunggu sekitar 3-5 hari untuk melihat reaksi kulitmu. Jika tidak menimbulkan reaksi yang parah, mulailah untuk mencoba menaikkan dosisnya sedikit demi sedikit.” Begitulah instruksi cara penggunaan awal yang diajarkan oleh Dr. Devi selaku manajer klinik Helwa Skincare.

Pemakaian retinol pada kulit harus hati-hati karena retinol merupakan bahan aktif yang bisa langsung memberikan efek samping terhadap kulit kita. Seperti yang dijelaskan oleh Dr. Devi, “Retinol bisa menimbulkan efek samping seperti iritasi pada wajah, kemerahan, dan membuat kulit kita menjadi sensitif terhadap matahari.” 

Retinol memang terkenal ampuh untuk menjaga kulit kita agar tetap awet muda. Tapi apa saja sih fungsi lain dari retinol?

Mengatasi Hiperpigmentasi

Salah satu fungsi retinol adalah untuk melawan hiperpigmentasi (bercak gelap pada kulit). Kandungan retinol dapat membuat kulitmu jadi lebih bersinar dan bitnik-bintik hitam di wajah akan berkurang. Ingat, jangan gunakan retinol bersamaan dengan vitamin C karena dapat menghilangkan manfaat dari retinol itu sendiri.

Mencegah Kerutan dan Penuaan Dini

Tretinoin merupakan salah satu jenis retinol yang sangat ampuh untuk mencegah munculnya garis-garis halus di kulit. Ini disebabkan karena tretinoin dapat meningkatkan produksi kolagen dan merangsang aliran darah di bawah kulit sehingga dapat menghasilkan kulit yang lebih sehat. 

Mengatasi Jerawat

Penggunaan retinol secara rutin dapat mengurangi peradangan yang terjadi pada kulit. Kandungan yang terdapat pada retinol juga dapat mengangkat sel kulit mati dan membuat pori-pori mengecil. Retinol dapat mengontrol produksi minyak pada kulit kita sehingga mengurangi penyumbatan pada pori-pori dan membuat jerawat jarang muncul.

Meskipun sudah mendapatkan izin resmi dari BPOM, penggunaan retinol tetap harus diperhatikan dan tidak boleh asal menggunakan. Ada beberapa cara pemakaian yang dianjurkan oleh Dr. Devi agar penggunaan retinol tetap aman bagi kulit kita. Pertama, menggunakan retinol pada usia 20 tahun ke atas. Kedua, memakai secara bertahap dan diberi jeda. Penggunaan retinol secara berlebihan bisa menyebabkan kulit kering dan kemerahan. Ketiga, gunakan retinol pada malam hari. Terakhir, selalu gunakan moisturizer dan sunscreen setelah menggunakan retinol pada esok paginya. Retinol sendiri dapat membuat kulit jadi lebih sensitif terhadap matahari, jadi sangat diajurkan untuk selalu memakai sunscreen di pagi dan siang hari.

Penggunaan retinol memang memiliki banyak manfaat bagi kulit kita. Tapi perlu diingat, jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal, kita harus mengerti cara penggunaan yang tepat dan juga tetap memperhatikan efek sampingnya.


Reporter: Salsabiela Rizky Putri

Editor: Ahmad Farrel Wahyu Firdaus



Mengintip Strategi Pengusaha UMKM Rejoso Meregenerasi Bisnis Kerajinan Kayu

Wawancara dengan salah satu pemilik Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Desa Rejoso, Kec. Junrejo, Batu. (Foto: Ahmad Farrel Wahyu Firdaus).

Batu | Diperkirakan sudah dirintis sejak 1970an, Sentra Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Rejoso sendiri awalnya dikenal sebagai tempat pengrajin cobek batu di Kota Batu, namun seiring berjalannya  waktu banyak pengusaha UMKM di Rejoso yang meninggalkan bisnis tersebut dikarenakan kurangnya minat dan tidak adanya penerus dari generasi selanjutnya. Banyak pengusaha UMKM di Rejoso beralih ke kerajinan yang lebih mudah proses pembuatannya yaitu kerajinan alat-alat dapur dari kayu. 

Tunik sudah menjalankan usaha kerajinan kayu di Rejoso ini kurang lebih 24 tahun lamanya. Dalam perjalanan bisnisnya Tunik juga memberikan pengarahan dan pendampingan pada masyarakat sekitar terutama anak-anak muda yang pernah menjadi karyawannya untuk mendirikan usahanya sendiri. “Memperkenalkan bisnis ke anak-anak itu bukan hal mudah, tidak semua mau dan punya skill di bidang itu, jadi kita memang benar-benar butuh anak muda yang punya jiwa di bidang itu,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya, Desa Rejoso, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur, Sabtu (01/10/2022). 

Tunik mengatakan bahwa membuat suatu usaha atau produk memang bukan hal yang mudah, anak-anak muda di Rejoso perlu diyakinkan terlebih dulu potensi dari bisnis ini. “Untuk membuat suatu kerajinan atau usaha itu memang diperlukan ketelatenan, jadi kita pahamkan mereka dulu. Jika mereka punya kerajinan atau produk, setidaknya mereka bisa menghasilkan uang setiap harinya, kalau jadi karyawan kan mereka harus menunggu gajian tiap bulan,” tuturnya. 

Tunik menjelaskan bahwa memberikan rasa nyaman dan senang merupakan hal yang terpenting dalam mengajak anak muda mengenal lebih dekat bisnis ini. “Kita senangkan mereka dulu, supaya mereka dengan sendirinya sadar, kita juga akan gali potensi dari anak-anak ini apakah sekiranya anak-anak ini kedepannya bisa menjadi wirausahawan muda, tapi itu semua juga tergantung dari pribadi anak-anak itu sendiri,’’ ungkapnya. Tunik mengungkapkan bahwa saat ini upaya untuk mengenalkan bisnis di kampung UMKM Rejoso menjadi lebih mudah. 

“Sekarang UMKM Rejoso sendiri sudah menjadi kampung wisata edukasi dan karena kita semua sering kumpul-kumpul setiap ada acara, mulai dari anak-anak kecil, remaja hingga orang dewasa, kita libatkan semua dari situlah banyak anak-anak muda yang kemudian sadar bahwa disini itu memang ada bisnis yang menjanjikan,” jawab Tunik ketika ditanya mengenai UMKM Rejoso. 

Terlepas dari itu memang meregenerasi bisnis di Rejoso juga memiliki tantangan tersendiri. “Kita butuh waktu dan pemikiran yang sangat spesial untuk anak-anak. Mulai dari skill kita dan tata SDM-nya. Pembelajaran untuk pelatihan dan pendampingan untuk anak-anak juga diperlukan usaha ekstra,” kata pemilik UD. Berkah Bu Tunik.


Reporter: Ahmad Farrel Wahyu Firdaus

Editor: Rizky Agung Bintara




Nyampah di Buangdisini.id Aja, Sampah Jadi Uang


Buangdisni.id, Aplikasi Penukaran Sampah Menjadi Uang. (Foto: Instagram Buangdisini.id)

Buangdisni.id, Aplikasi Penukaran Sampah Menjadi Uang. (Foto: Instagram Buangdisini.id)

Malang | Masalah sampah memang tak kunjung usai hingga saat ini, apalagi sampah plastik. Hampir dari setiap aktifitas kita mengunakan plastik. Namun, bukan berarti tak bisa dikendalikan. Perusahaan rintisan tiga anak muda mahasiswa Universitas Brawijaya, Buangdisini, mencoba mengatasi masalah dengan melalui aplikasi.

CO-Founder dan Chief Marketing Officer (CMO) Buangdisini, Konshika Koeswara yang kerap disapa Shiki mengatakan bahwa permasalahan sampah saat ini bukan lagi urgensi lokal melainkan sudah menjadi urgensi global. Hal ini juga memotivasi mereka untuk membangun startup yang bisa mengendalikan permasalahan ini.

“Jadi tu waktu itu (2017) lagi nge-trend climate change gitu sih sebenernya, memang kayak lagi digembur-gemburkan climate change jadi yaudah kayak kenapa kita gak ikut untuk meramaikan awareness kayak gitu, melihat bahwa sebenarnya climate change juga bukan urgensi lokal lagi, tapi itu memang urgensi global, cuman kita turunkan urgensi itu ditingkat lokal yaitu di Malang,” ujar Shiki dalam sesi wawancara di kantor Buangdisini.

Startup yang lahir pada 2017 ini juga memiliki tujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk sadar dengan perubahan iklim. Harapannya masyarakat sadar akan dampak buat diri sendiri dan lingkungan mereka. Adapun pencapaian Buangdisini dari awal berdiri hingga saat ini adalah sudah memberikan kontribusi berupa membuat kegiatan peduli lingkungan, melakukan campaign, sosialisasi tentang lingkungan, menuntun 800 pemulung, dan mengolah 40 ton sampah plastik perbulannya.

C:\Users\CHANDRA\Downloads\IMG_20221006_050835_870.jpg

Seorang pemulung (kanan) menukarkan sampah di gudang pengolahan sampah milik Buangdisini. (Foto: Dokumentasi Buangdisini)

Buangdisini menemukan permasalahan sampah, yakni distribusi sampah yang sangat panjang. Ini menyebabkan sampah terkontaminasi sehingga harga perkilo sampah menjadi murah. Buangdisini berupaya untuk membuat distribusi yang cepat sehingga masyarakat termotivasi untuk memilah sampah dari rumah. Dengan melakukan itu bisa mengurangi tingkat peluang sampah terkontaminasi. Sehingga memiliki life span yang bagus tentu nilai jualnya akan berbeda.

“Bagi siapapun yang ingin menukarkan sampah di Buangdisini sangat mudah sekali ya, kalau sekarang kan kita belum launching aplikasi kita nih, jadi bisa langsung kontak kita di akun instagram kita aja. Kemudian drop ke kantor kita nanti kita tukar dengan uang,” lanjut Shiki.

Harapan Buangdisini untuk ke depannya mampu menerima semua jenis sampah yang memiliki value dan masyarakat nantinya juga akan mendapat keuntungan di sini. Harapan ini bertujuan untuk masyarakat dapat hidup lebih sustainable. Selain itu mereka juga akan melakukan perluasan service mereka tak hanya di Malang. 

“Harapannya si nantinya kita bisa nerima semua jenis sampah dan bisa expansion servis kita ke nasional si,” ujar Shiki 

Berkat kegiatan yang dilakukan, Buangdisini telah mendapatkan penghargaan diantaranya Asean Center of Entrepreneurship 2017, Young Enterpreneur Start-Up of Brawijaya University 2019, GITA award by Eramus+Programe of the Eropean Union 2020.



Reporter: Muhammad Faris Taufiqul Hakim
Editor: Aurellia Marsya














Kesuksesan yang Berasal dari Tongkrongan


 

Tampak depan dari outlet warkop brewok (Foto: Intan Mei Purwanti)


Malang | Apakah Anda pernah mendengar jika ada sebuah kebiasaan yang buruk dapat mengubah hidup seseorang? Ya, terkadang kita jarang percaya akan hal itu atau bahkan sampai dipandang sebelah mata orang lain. Tetapi apakah anda percaya jika orang tersebut sekarang memiliki usaha bisnis yang sudah berkembang hingga menjadi CV? Ini adalah kisah dari Rigel Dwi Setiawan, pemuda berusia 27 tahun. 


Rigel Dwi, pemuda asal Surabaya kelahiran 29 April 1995 itu telah memiliki usaha di bidang F&B yang sudah berkembang. Rigel memulai usahanya dari nol, hingga kini telah berkembang menjadi CV, tentu saja itu semua tidaklah mudah. Pemuda asal Surabaya ini merintis usahanya dari September 2016 bersama teman-temannya. Dia tidak mengira jika usahanya akan berkembang seperti saat ini, apalagi awalnya tidak memiliki basic di bidang tersebut. 


Rigel Dwi yang sedang melayani pembeli (Foto: Intan Mei Purwanti)

Rigel dulunya kuliah di Universitas Brawijaya dan mengambil jurusan Agribisnis. Dari banyaknya pertimbangan dan dukungan dari orang tua serta teman-temannya, pada 2017/2018 akhirnya Rigel berhenti kuliah dan lebih memilih melanjutkan untuk mengembangkan bisnis yang dijalaninya. Hal tersebut diawali dengan hobi yang sama, yaitu suka nongkrong dan ngopi yang berakibat kuliah tidak kunjung lulus, nilai buruk, serta tidak bisa menjadi orang yang lebih baik untuk keluarga. Dari situ mereka mempunyai pemikiran kenapa tidak membuat usaha sendiri, dari tempat nongkrong menjadi tempat yang bisa menghasilkan uang. Akhirnya dipertemukan dengan satu pemikiran yaitu untuk bisa "berkembang". 


Usaha yang sedang digeluti adalah bisnis Food and Beverage (F&B). F&B merupakan bisnis yang banyak peminatnya, apalagi dikalangan anak muda. Usaha mereka yaitu "Warkop Brewok". Outlet pertamanya berada di Jalan Terusan Candi Mendut nomor 37, Mojolangu, Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. Kemudian seiring berjalannya waktu, bisnisnya terus berkembang dan sekarang sudah ada yang di luar kota seperti Jember, Madiun, Tulungagung, dan Kediri. Rencana selanjutnya yaitu akan membuka outlet baru lagi yang berada di beberapa tempat kopi di Kediri, Surabaya, dan Sidoarjo. Selain itu, ada beberapa lini usaha pendukung F&B dari kafe Brewok seperti Brewok packaging, Brewok supply untuk mengkoordinasi bahan baku bagi seluruh lini usaha dari kafe Brewok. 


Salah satu varian kue pancong spesial dengan topping green tea (Foto: Intan Mei Purwanti)

Sesuai dengan namanya, Warkop Brewok menyajikan berbagai macam jenis makanan dan minuman yang beragam mulai dari kopi, susu, kapiten hingga menu yang paling andalan yaitu kue pancong. “Salah satu misi kami adalah ingin menghancurkan statement bahwa warkop hanya untuk laki-laki,” kata Rigel. Nah, misi tersebut diwujudkan dengan adanya sajian kue Pancong tersebut. Alasan kue pancong menjadi kudapan yang tepat bagi outlet tersebut adalah karena kue pancong itu makanan manis dan disukai banyak wanita. Pada saat itu harapannya dapat mendatangkan teman-teman wanita agar datang ke tempat usahanya tersebut, harga menu yang disediakan juga dapat dikatakan ramah di kantong.


Selain itu, mereka juga menyediakan fasilitas-fasilitas lain agar pembeli merasa nyaman saat berada di tempat tersebut, seperti meeting room untuk tempat meeting/berdiskusi, dan yang kecil tapi penting adalah menyediakan no smoking area. Jadi yang tidak merokok dan tidak suka asap rokok dapat masuk ke area situ agar tidak terganggu. 


Potret Intan Mei (kiri) bersama Rigel Dwi (kanan), salah seorang perintis Warkop Brewok (Foto: Intan Mei Purwanti)


Yang namanya usaha pasti banyak hambatannya. Perbedaan visi merupakan hambatan di awal pembuatan bisnis ini karena terdiri dari beberapa kepala yang memiliki visi masing-masing, tetapi hal itu bisa ditangani dengan memberikan jobdesc untuk masing-masing orang yang terlibat di dalam usaha tersebut. Ada yang menjadi sebagai Ketua, HRD, Research and Development (RnD), pengatur keuangan, dan sebagainya. Tujuan pembagian jobdesc bagi setiap orang tersebut agar tidak ada yang merasa sebagai pemilik karena sudah memiliki tanggung jawab masing-masing.


Untuk masalah lainnya seperti finansial, keuangan, dan operasional dapat diatasi dengan membuat SOP, membuat aturan bagaimana operasional ini berjalan sebagaimana mestinya. Menariknya lagi, Rigel berkata, “Menurut kami, usaha yang sehat adalah tidak hanya usaha yang stabil tetapi juga usaha yang tidak memiliki hutang.” Jadi mereka mendirikan usaha tersebut tidak memakai uang pinjaman, melainkan memakai uang seadanya yang mereka miliki kemudian dikumpulkan menjadi satu. 


Nah, dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak semua kebiasaan buruk akan berakhir buruk juga, itu semua tergantung pola pikir dan kemauan untuk maju orang di sekitar kita. Jadi bagi kalian khususnya anak muda, kuliah sambil merintis usaha dari kebiasaan yang dilakukan itu bukan suatu hal yang mustahil dilakukan. Kuncinya tidak perlu ragu bergerak untuk merealisasikan ide yang kalian miliki.



Reporter: Intan Mei Purwanti

Editor: Alda Imroatul Istifaiyah


Eksistensi Jatim Park Group di Era Endemi


Suasana pintu masuk di Jatim Park 1 Kota Batu (Foto: Dimas Haryo Bimo Nugroho)


Batu | Berakhirnya Pandemi Covid-19 membawa kabar baik bagi seluruh kalangan begitu pula dengan pemilik destinasi wisata Jatim Park Group (JTP). Pihak Jatim Park Group menyambut dengan antusias kabar baik ini dengan tetap melakukan protokol kesehatan yang semestinya.


Seorang customer service, Dwinda Dewi menyatakan, bahwa era endemi ini membawa peningkatan yang cukup baik bagi kalangan wisatawan.


“Senin (3/10) kemarin, setidaknya sudah ada peningkatan pengunjung di era endemi ini di mana saat pandemi hampir 70% kita kehilangan wisatawan kini sudah menurun menjadi 30% sebelum pandemi dan kita terus berharap jumlah pengunjung akan terus meningkat tiap harinya,” tuturnya.


Menurut Dwinda, peningkatan ini tidak hanya terjadi di Jatim Park 1 namun juga di setiap tempat wisata yang dimiliki Jatim Park Group (JTP) seperti Batu Night Spectacular (BNS), Jatim Park 1, 2, dan 3), Predator Fun Park, Eco Green Park, Museum Angkut, dll. Peningkatan ini sudah dirasakan ketika musim liburan lalu di bulan Mei hingga Juli 2022 ini.


“Sudah banyak pengunjung datang kembali ke Jatim Park, biasanya ketika musim liburan, Hari raya Idul Fitri dan sebelum anak sekolah melaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS)/Ujian Akhir Semester (UAS).”

Kondisi area parkir Jatim Park 1 Kota Batu (Foto: Dimas Haryo Bimo Nugroho)


Jumlah pengunjung sudah terlihat dari padatnya jumlah transportasi yang parkir di area Jatim Park 1.


“Biasanya kita sudah tau kalo pengunjung itu ramai atau tidak dari parkiran depan kantor kita, kalau ramai mereka biasanya parkir sampai luar area parkiran Jatim Park 1 yang sudah disediakan,” ujar Dwinda.


Wisatawan menikmati wahana Airborne Shot (Foto: Dimas Haryo Bimo Nugroho)


Tentu saja hal ini membawa kabar baik juga bagi pengunjung karena setelah sekian lama mereka terjebak dalam situasi Pandemi Covid-19 kini mereka dapat kembali berlibur untuk menikmati waktu yang ada serta ini juga menunjukan bahwa Jatim Park Group (JTP) masih tetap eksis walaupun sempat terguncang saat Pandemi Covid-19 lalu.



Reporter: Dimas Haryo Bimo Nugroho
Editor: Alda Imroatul Istifaiyah