Kondisi Pasar Buku Wilis yang tengah sepi pengunjung. (Foto: Alda Imroatul Istifaiyah).
Malang| Bagi Anda yang suka membaca atau mengoleksi buku-buku jadul, bekas, maupun baru, Pasar Buku Wilis patut Anda masukkan ke daftar kunjungan Anda.
Pasar Buku Wilis adalah pasar yang khusus menjual berbagai jenis buku. Pasar ini terletak di Jalan Simpang Wilis Indah, Malang, Jawa Timur. Tempat ini menyediakan buku, mulai dari buku-buku jadul, bekas, hingga baru hampir semuanya ada. Pasar Buku Wilis sendiri mempunyai beberapa kios pedagang buku yang bisa dijumpai. Kebanyakan para pedagang menjual buku-buku pengetahuan umum, sains, terjemahan, buku sekolah, perguruan tinggi, hingga novel dan komik.
Bukan hanya variasi buku yang menjadi keunggulan di sini. Namun, pelanggan juga dapat menawar buku dengan harga terjangkau. Hal yang susah dilakukan saat berbelanja lewat aplikasi e-commerce.
Pengunjung bukan hanya bertujuan untuk membeli buku di sini. Namun, ada juga yang berkunjung untuk menjual koleksi buku pribadi mereka kepada pedagang di Pasar Buku Wilis.
Keunikan lain juga terdapat pada kios-kios yang jika tidak memiliki buku yang sedang dicari oleh pelanggan, maka kios tersebut akan bekerja sama dengan kios lainnya. Buku yang dijual di sini juga terjangkau. Pelanggan dapat membeli buku mulai dari lima ribu rupiah hingga 250 ribu rupiah.
Terlepas dari segala keunikan Pasar Buku Wilis, akhir-akhir ini para pedagang di Pasar Buku Wilis merasakan keresahan akibat era digitalisasi. Digitalisasi sendiri merupakan penggunaan teknologi digital guna mengubah model bisnis. Di era semua yang serba digital ini, ada beberapa pedagang buku yang terdampak akibat dari digitalisasi tersebut.
"Karena era digitalisasi, pengunjung di sini jadi menurun," kata Arif Wahyudi yang merupakan salah satu pedagang buku di sana pada kami, Minggu (2/10).
Pengunjung yang rata-rata berasal dari mahasiswa menjadi turun akibat dari pandemi COVID-19. Walaupun PPKM sudah tidak diberlakukan, namun dengan adanya teknologi yang membuat buku bisa dibaca kapanpun dan dimanapun (e-book) membuat para pedagang agak susah mendapatkan pelanggan.
Arif berkata bahwa kebanyakan dari pelanggan hanya mencari buku-buku yang sulit dicari di tempat lain dan mereka juga mencari buku dengan harga murah. "Dari kalangan akademisi memang cepat menyesuaikan era digital, jadi pelanggan dari kalangan mereka menurun." Ia juga menyampaikan bahwa dari kalangan akademisi lebih memilih untuk berbelanja buku melalui aplikasi e-commerce daripada berbelanja langsung di tempat.
"Pengunjung masih, tapi memang sedikit. Penjualan juga ada, tapi menurun dari sebelum-sebelumnya," jelas Arif.
Keresahan lain juga kami temukan pada Suwardi, salah satu pedagang di sana, ia mengatakan, "Penjualan tetap ada, tapi mengalami penurunan." Kami lantas bertanya mengapa ia tidak menjual lewat aplikasi e-commerce saja, kemudian ia menjawab bahwa toko yang dimilikinya tidak mempunyai buku yang lengkap.
Suwardi yang tengah menunggu pelanggan berkunjung ke kiosnya. (Foto: Alda Imroatul Istifaiyah).
Ia juga menyampaikan bahwa ada beberapa kios yang tutup lebih awal akibat dari menurunnya pengunjung. "Kadang kiosnya tutup lebih awal sebelum waktunya pasar tutup." Ia juga menambahkan bahwa selama pandemi, ada beberapa kios yang tetap buka walaupun tidak ada pengunjung.
Dinda Rizky, seorang mahasiswi yang kebetulan sedang mencari sebuah buku Pengantar Ekonomi Makro berkata, "Saya mencari buku di sini karena terkadang di sini lebih murah dari pada e-commerce dan di sini juga bisa ditawar."
Para pedagang juga ingin menyampaikan hal ini kepada Pemerintah Kota Malang yang diharapkan dapat memberikan solusi atas keresahan para pedagang di sini.
Reporter: Alda Imroatul Istifaiyah
Editor: Muhammad Faris Taufiqul Hakim






0 komentar:
Posting Komentar